..hanya sebuah goresan..

berani mengakui kesalahan #2

Ditulis dalam catatan kecil oleh admin pada 24 April 2010

Semua bermula dari kecurigaan keluarga, atau lebih tepatnya Bapakku yang hebat (love u Dad..). Setahun setalah lulus kuliah dan tidak lama kemudian aku bekerja sebagai staff IT di sebuah perusahaan swasta.

Gaji sebagai karyawan baru di sebuah perusahaan swasta sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk seorang lulusan baru. Karena kebiasaan yang serba lebih disupport oleh orang tua, khususnya uang bulanan waktu jaman kuliah, membuatku selalu merasa kekurangan, tentunya dalam hal financial.

Saking pingin foya-foya dari uang gaji dan ternyata kurang, lalu aku menjual komputer tanpa sepengetahuan dari keluarga, karena semenjak bekerja, computer tersebut jarang tersentuh.

Awal mula keluargaku tidak pernah curiga, tapi lambat laun aku tahu ada pertanyaan besar dalam hati mereka masing-masing. Hingga akhirnya Bapak membangunkanku di tengah malam buat ngobrol di depan rumah.

Dengan suasana santai Bapak tentang pengalaman beliau merintis usaha hingga bisa menjadi dalam keadaan seperti yang sekarang ini. Beliau bercerita tentang pahit manisnya mengembangkan usaha, intrik dalam keluarga hingga konflik-konflik dengan orang lain yang pernah dialami oleh Bapak. Semua di-share oleh Bapak tanpa ditutup-tutupi.

Hingga beliau bertanya tentang sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang beliau ceritakan sebelumnya.

“Le, Bapak arep takon.(nak, bapak mau nanya.)”, ujar Bapak.

“Ngih Pak, wonten nopo? (iya pak, ada apa?)”, aku balik membalas.

“Komputermu neng di, Le? (komputermu dimana nak?), beliau balik menjawab.

Aku terdiam sejenak, masih belum bisa menjawab dengan pasti. Anatara jurjur dan ingin berbohong. Tapi mengingat orang tua selalu mengajarkan untuk berusaha selalu jurjur, aku tidak mungkin berbohong. Dan akhirnya aku harus jujur denngan mengatakan, “Kulo sade Pak. (saya jual, pak).”

Bapak hampir tanpa ekspresi. Mungkin karena beliau sudah bisa menebak sebelumnya.

“Jujur wae Le, Bapak ora seneng karo caramu. (jujur aja nak, bapak nggak seneng ama caramu).” ucap Bapak.

“Kowe ki sak durunge polah nek isoh yo taren sik. Ora o karo Bapak yo isoh akro masmu kuwi. (kamu tuh sebelum mengambil sikap, kalo bisa musyawarah dulu. meskipun tidak sama bapak, khan bisa sama kakakmu itu).” lanjut Bapak.

Pembicaraan Bapak begitu banyak. Diujung pembicaraan beliau berkata,”Kowe wis gawe salah Le, ning siji sing Bapak seneng, kowe wani ngakoni salahmu karo kowe wis JUJUR. (kamu udah berbuat salah nak, tapi satu yang bapak bangga, kamu berani mengakui kesalahanmu dan kamu sudah JUJUR”.

Sekali lagi pengalaman yang hidup dari seorang “mentor” kehidupanku dari kecil.. telah mengajarkan kepadaku (lagi) tentang pentingnya mempetanggungjawabkan setiap sikap dan ucapan, pentingnya menjadi orang yang tegas dan tidak memble.. dan satu lagi : pentingnya menjadi orang yang JUJUR…

Dan beliau selalu ingin aku menjadi seorang dengan karakter yang kuat.

Satu Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Aisyah Yuniarti berkata, pada 25 Januari 2012 pada 4:53 am

    Subhanallah, moga mas didit slalu hdup dlm kejujuran,n get your strong character. Proud of you bro=)


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.