berani mengakui kesalahan #1
DUARRR!!!!!
Akhirnya meledak juga….
Lamaaaa banget nggak pernah nulis di blog. Kalo ngeliat postingan terakhir berarti sudah hampir setahun nggak nulis di blog. Meskipun aku juga sering nulis di Facebook, tapi itupun nggak sering.
Kerinduan menulis benar-benar menggebu di saat pikiran ini perlu penyegaran dan “curhat” tentang sesuatu.
Satu hal dalam kamus menulisku adalah : BUKAN UNTUK MENGELUH. Karena orang yang sering mengeluh pasti tidak akan maju-maju.
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Pengalaman #1
Saat aku masih kerja di perusahaan swasta dulu, aku pernah dipanggil oleh Direktur karena aku melakukan suatu pekerjaan yang “tidak” diperintahkan oleh Direktur-ku tapi diperintahkan oleh Konsultan dari Jakarta yang notabene adalah keluarga dari Direktur itu sendiri.
Aku diperintahkan untuk men-training orang bagian PPIC (bagian produksi) untuk menggunakan Sistem Informasi Perusahaan yang kami kembangkan untuk perusahan tersebut. Entah kebetulan atau tidak Sang Direktur ternyata pas keliling memantau pekerjaan ke karyawannya. Sang Direktur menjumpai bahwasannya aku sedang mengajari salah satu karyawan sebagai user dari Sistem Informasi Perusahaan yang kami kembangkan.
Melihat wajah Sang Direktur sangat kelihatan kalau beliau marah. Tapi karena tidak begitu berpengaruh terhadap cashflow perusahaan, Sang Direktur masih bisa menahan amarahnya di tempat dan sejurus kemudian beliau memanggilku ke ruangannya. Teman-teman yang lain sudah pada tahu kalau aku dipanggil mau dimarahin.
Sesaat setelah masuk ruangan, Sang Direktur dengan tatapan spanengnya melihat tajam ke arah mataku.
Sebentar kemudian Sang Direktur tersenyum sambil berkata, “Didit, kamu masih harus belajar banyak tentang etika bekerja.. dimana kamu harus tahu level order tentang apa yang kamu kerjakan.”.
Panjang lebar Sang Direktur menguliahi aku dengan kalimat-kalimat bijaknya. Metode marahnya pun lain dengan cara Sang Direktur memarahai karyawan yang lain. Kalau yang lain dibentak-bentak, kalau aku masih dengan pendekatan persuasif tanpa nada tinggi sedikitpun. Aku tidak tahu apa karena aku sebagai orang vital diperusahaan itu (waktu itu jadi staff IT yang mengelola asset 200 M) atau karena tingkat sensitifitas dan tingkat kesulitan yang kompleks tentang pekerjaanku waktu itu.
Aku berujar, “Mohon maaf Bapak, sekiranya saya mengerjakan hal tersebut hanya disuruh Mas Adi (konsultan IT&Accounting dari Jakarta)”.
Akhirnya Sang Direktur selesai menatarku dan aku disuruh kembali ke pekerjaan.
Ternyata tidak hanya sampai disitu. Bapak Direktur Utama juga mendengar apa yang kulakukan. Tiga hari kemudian aku dipanggil oleh Direktur Utama untuk minta penjelasan yang sama seperti yang dilakukan Direktur.
Untuk pemanggilan yang kedua, aku berpikir harus BERTANGGUNG JAWAB secara pribadi tentang apa yang kulakukan karena sudah level Direktur Utama. Aku tidak berpikir bahwa yang kukerjakan atas perintah si konsultan, karena memang sebenarnya yang berrhak memerintahku adalah atasanku bukan dari pihak konsultan.
Panjang lebar aku diinterogasi untuk klarifikasi. Dan aku menemukan ujung dari perbincangan yang hebat dengan Sang Direktur Utama.
Di akhir pembicaraan Sang Direktur Utama bertanya, ”Didit sadar nggak kalau telah melakukan kesalahan SOP (Standard Operating Procedure)?.
“Iya Bapak, saya sadar 100% bahwa saya telah berbuat kesalahan dan saya siap dengan segala konsekuesnsinya. Bahkan jika saya harus melepas pekerjaan saya.”, jawabku dengan lantang, lugas dan mantap.
Masih belum puas dengan jawaban tersebut Bapak Direktur Utama bertanya lagi, ”Bagaimana seandainya Didit berbuat salah lagi, apakah Didit tidak takut berbuat salah?.”
Karena habis baca buku Robert T. Kiyosaki, aku menjawab seperti apa yang ada dalam buku itu. “Didit tidak pernah takut untu berbuat salah, Bapak.”
“Karena manusia tidak pernah lepas dari berbuat kesalahan. Justru Didit senang jika berbuat kesalahan (yang tidak disengaja tentunya). Dengan berbuat kesalahan Didit pasti belajar untuk berbuat sedikit LEBIH BENAR daripada sebelumnya, Bapak. Seandainya Didit berpikir SELALU BENAR tentang apa yang Didit lakukan, Didit mungkin akan menjadi orang yang selalu merasa sempurna dan tidak akan pernah berkembang.” Begitu jawabku dengan nada yang sok bijak dicampur ndoboz sithik-sithik (ngarang dikit-dikit).. hahahahaha…
Sebelum keluar ruangan Sang Ditektur Utama, beliau sempat berkata seiditkit, “Jika Didit selalu berani mengakui kesalahan, Didit akan menjadi seorang HEBAT dalam hal apapun di kehidupan ini.”
Sungguh pengalaman yang spektakuler. Mendapat kalimat bijak bukan hanya dari sekedar membaca dari buku tentang pengembangan diri yang kadang-kadang belum tentu bisa dipraktekkan, tetapi langsung dari seorang Direktur Utama yang sangat-sangat pantas untuk diteladani dalam etika bekerja. Thanks a lot Mr. Indra…..
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Pengalaman #2 (bersambung… klik disini)

heeemmm… saya juga sering berbuat salah…