Setiap orang berkeinginan lebih adalah hal yang wajar menurutku. Apalagi pada saat seseorang yang berambisi dan terobsesi terhadap sesuatu pada masa lalunya tidak tercapai. Pada saat dia bisa dan mampu menggapainya biasanya malah kelewatan jadinya. Atau lebih tepatnya dendam sehingga menjadi pelampiasan.
Banyak faktor yang menyebabkan hingga menjadikan seseorang seperti itu. Namun paling banyak karena faktor status sosial dan ekonomi. Yang tadinya tidak punya uang lalu bekerja dan mendapat rejeki lebih, kemudian mencoba hal yang di-ambisi-kan di masa lalu.
Bisa juga karena tadinya bukan siapa-siapa lalu seolah-olah bisa ‘membeli’ dunia dan kemudian membuat sensasi dilingkungannya untuk mendapatkan pengakuan.
Tapi sadarkah kita jika rasa mampu dan lebih itu adalah ujian Sang Pembuat Kehidupan?
Berkaca dari pengalaman seorang sahabat yang dulu berambisi hebat untuk menjadi seorang polisi. Sahabat tersebut berambisi menjadi seorang polisi karena untuk meninggikan status sosial ekonominya.
Satu hal yang membuatku salut karena kegigihannya dalam mempersiapkan fisik jasmani dan perjuangan rohani. Hampir tiap dua hari sekali dia melakukan latihan fisik, mulai dari lari puluhan kilometer, push up dan sit up ratusan kali dll.. Belum lagi puasa sunah dan sholat malam yang sering dijalaninya, bahkan dia adalah salah satu temanku yang religius. Tes demi tes dia jalani dengan sungguh-sungguh, optimistis dan sabar.
Dan akhirnya hari pengumuman tiba dan dia dinyatakan diterima.
Dengan berjalannya waktu, lambat laun aku melihat ada sesuatu yang berubah pada tabiatnya sejak menjadi anggota POLRI. Dia tidak seagamis dulu dan suka main judi. Sungguh hal yang sangat kusayangkan jika melihat perjuangannya dulu.
Aku hanya berpikir kenapa dia bisa begitu banyak berubah? Karena pergaulan atau karena “balas dendam” dari obsesi masa lalunya? Hanya sahabatku itu yang tahu.
Ada juga kenalan seorang pejabat di suatu kementrian. Hobinya investasi tanah atau rumah. Sekarang dia sudah memiliki lebih dari sepuluh kavling atau rumah. Diapun hingga saat ini masih menempati rumah yang dibelinya pertama kali. Rumahnya sangat biasa untuk ukuran orang sekaya dia. Hingga pernah kutanyakan kepada beliau kenapa kok tidak pindah ke rumah beliau yang lebih?. Diapun menjawab, “aku lebih senang tinggal disini, supaya selalu berpikir realistis dan low profile, mas.”
Sebuah jawaban yang membuat aku juga ingin selalu berpikir realistis, apa adanya dan ingin menjadi seorang yang low profile..
DIarsipkan di bawah: catatan kecil













Saluut……
hmmm…
sebenernya aku ga pengen ngomentarin postingan ini.. hehehe
tapi pengen ngasih tau kalo link status di ym mu kui salah..
a href=”ymsgr:sendIM?wongtlogo”
bukan
a href=”sendIM?wongtlogo”
sampai sekarang saya juga selalu berusaha untuk bisa berfikir realistis..