Pagi-pagi menuju lift untuk sarapan sewaktu lembur kerjaan di hotel Sahid kawasan Sudirman orang tuaku menelpon.
Tepat di depan lift, di sela-sela percakapan, tiba-tiba dengan nada sedikit bercanda orang tuaku bertanya,”Kapan kamu nikah?”.
Meskipun dengan nada bercanda tetapi aku sempat ‘kaget’ karena tidak tahu harus kujawab apa. Akhirnya kujawab sekenanya dengan sedikit membela diri,”Ah.., urusan itu gampang Bu, nanti juga kalau udah waktunya aku kabari. Golek bojo gampang sing angel ki golek jodo. (cari istri kalo asal-asalan mungkin gampang, cari istri yang cocok itu yang susah.)”.
“Ya udahlah, jangan lama-lama membujang ya.. Takutnya nanti kamu nggak mapan-mapan kalo nggak buru-buru nikah. Duitmu nanti habis cuman buat seneng-seneng aja.”, pesan ibuku sebelum mengakhiri percakapan di telepon.
Menikah.
Ya.. Menikah adalah pertanyaan klasik yang selalu ditanyakan sama teman SMA, teman kuliah, teman maen dan juga teman kerja.
Menikah memang bukan perkara mudah. Kalaupun aku suruh memilih, aku ingin segera menikah untuk menyempurnakan kewajiban sebagai manusia normal. Tapi menurutku menikah bukan sekedar ‘gue cinta loe cinta’, tetapi lebih kepada niat dan ketulusan untuk ber-KOMITMEN. Berkomitmen siap untuk seadanya meskipun kadang adu mulut, silang pendapat dan lain lain.
Menyatukan dua pribadi yang berbeda bukanlah perkara mudah jika tidak mau berkomitmen untuk saling menerima apa adanya. Karena ada juga yang menikah cuman buat status kemudian cerai, menikah lagi lalu cerai lagi dan begitu terus selanjutnya. (kok nggak kasihan ama anaknya ya? Hehehe :p)
Kalo dilihat dari umur, aku masih 26 tahun dan masih jauh dari waktu menikah karena menurutku waktu ideal menikah untuk laki-laki jaman sekarang adalah antara 28 sampai 30 tahun, meskipun sunnah rasul adalah 25 tahun.
Sudah banyak temenku yang menikah dengan mengesampingkan rasa cinta dulu. Mereka berkomitmen menikah untuk ibadah dan meyakini rasa cinta bisa didapatkan melalui sebuah proses. Dan sampai detik ini, pernikahan mereka baik-baik saja.
Pernah juga temen perempuan yang lebih tua dari aku 6 tahun baru aja menikah. Dia mengatakan lega setelah melalui prosesi pernikahan pas umur 31 tahun. Dia tidak mencari seperti idealisme-nya sewaktu berusia dibawah 25 tahun. ”Yang penting dia niat memperistri aku dan tanggung jawab”, begitu katanya.
Lalu ia sendiri menyambung,”Cewek tuh kalo masih dibawah 25 tahun masih idealis dan itu adalah hal yang wajar. Tetapi setelah melewati usia 25 tahun, idealisme itu akan runtuh oleh waktu dan yang dicari akhirnya menikah untuk membangun keluarga yang sebaik-baiknya”. (ternyata cewek bisa obyektif juga yah? hehehe…)
Tapi terlepas dari itu semua, setiap dari kita telah diciptakan berpasang-pasangan. Entah cepat atau lambat pasti kita dipertemukan dengan jodoh kita dan tinggal bagaimana kita menyikapinya untuk berkomitmen. (ciee.. ciee… tumben dhidhot sok bijak nehh..)
Lalu bagaimana mencari cinta dan kapan waktu yang tepat memutuskan untuk menikah?? klik aja link-nya hehehe..
DIarsipkan di bawah: catatan kecil













mas didit… kynya pnh dgr deh crita dari link2 diatas itu.. hehe.. dr mn ya.. kok pnh kenal??
didit..buruan kawin, daripada exp kayak gw,,,hahahhahaha
wekekekekekekkkk….
kayaknya mesti nikah dulu deh.. baru bisa kawin (***cencored***)).. hahahahahahahahaa… :p
buat ai, santai aja… tak kan lari gunung dikejar….
lha dirimu tu dah ada planing buat kawin belum je he he:).
Bener kata ibumu, nunggu apa lagi..
(uncencored)