# Stasiun Juanda – Jakarta # Jumat, 4 April 2008 at 20.18 #
Malam itu selepas lelah pulang kerja dari kantor aku menuju Stasiun Juanda , tepatnya disebelah Masjid Istiqlal yang notabene masjid terbesar di Indonesia karena bisa menampung jamaah hingga 7 ribu orang.
Begitu banyak orang berlalu lalang, bahkan ada yang hingga lari mengejar kereta rel listrik atau yang populer disebut ka-er-el. Dari kantor menuju Stasiun Juanda sendiri aku menggunakan ojek, meskipun ongkosnya empat ribu lebih mahal dibanding naik bus kota yang cuman seribu rupiah. Tapi seperti orang jawa bilang ” rego ki nggo rupo” (harga menunjukkan kualitas – red). Sesuai harganya, ojek lebih cepat.
Berhubung sudah penat di kantor dan sudah terlanjur agak larut, karena waktu itu menunjukkan pulul 20-an aku memutuskan untuk menggunakan ojek. Sesampai di Stasiun Juanda aku bergegas ke lantai dua tempat loket penjual tiket. Biasanya naik ka-er-el ekspress, tp KRL Ekspress hanya sampai jam 19 malam. Aku memutuskan naik ekonomi yang cuma 1500 rupiah. Jauh banget harganya dibanding ekspress yang 9000 rupiah. Tapi sekali lagi, ”rego ki nggo rupo”. Harga ekonomi ya fasilitas ekonomis. Harga ekspress ya kualitas ekspress.
Sempat berhenti sebentar di depan loket karena ada temen kantorku yang maen pingpong. Karena dia nggak melihatku, aku memutuskan untuk naik ke lantai tiga tempat ka-er-el lewat alias jalur rel.
Perut terasa lapar. Aku memutuskan untuk membeli roti dua buah, roti isi pisang sama isi ayam. Tapi makannnya nggak kubarengin takut rasanya jadi ayam pisang hehehehe…
Duduk di bawah tiang, sambil makan roti baru dapet separo sekaligus browsing via HP di WAPdetikCom, tiba-tiba ada seorang anak kecil menghampiri.
”Pak, kasih Pak… minta Pak…”, kata si anak kecil sambil melihat aku dan menengadahkan tangan.
Hidup di Jakarta memang keras. Orang yang tidak sanggup bersaing akan tersingkirkan. Orang yang lugu tidak macam-macam malah cenderung tidak berkembang. Itulah pikiran kecil di otakku saat itu. Melihat anak kecil kira-kira umur 9 tahun tersebut, aku bergeming untuk tidak memberikan apa-apa.
Salahkah Aku???
Jika dilihat secara objektif, setiap makhluk di muka bumi ini pasti malu untuk mengemis. Tapi ini Jakarta, Sobat. Setiap orang menggunakan segala cara untuk bisa bertahan hidup.
Kenapa aku bergeming untuk tidak memberikan sesuatu?? Karena hal seperti itu tidak layak untuk diberikan kepada anak yang seharusnya jam segitu tugasnya belajar agar negara ini berisi manusia-manusia intelek dan agar tidak disepelekan oleh negara lain.
Tapi apa daya, pendidikan di Indonesia sangatlah mahal. Pendidikan formal sudah merupakan bisnis. Untuk mencari kerja saja dilihat pendidikan terakhirnya apa, lulusan mana n so on dan sebagainya…
Aku pribadi secara tegas mengatakan aku tidak salah untuk tidak memberikan apa-apa kepada anak tersebut. Bukannya aku tak punya hati atau rasa dermawan. Jujur saja, aku lebih senang memberikan sumbangan kepada Panti Asuhan Yatim Piatu daripada memberi kepada gelandangan karena dengan memberikan kepada mereka, mereka pasti akan semakin malas lagi untuk berusaha.
“Ngapain capek-capek, kalo gini aja udah dapet duit.”, mungkin begitu bathin mereka.
Tidak lupa aku juga pernah melihat di Trans TV Investigasi kalau pengemis di Jakarta masuk dalam sindikat yang dikoordinir oleh orang-orang yang tega men-‘dholim’-i anak-anak kecil sebagai ladang emas mereka. Setelah sempat terlintas dengan gambaran tayangan di Trans TV tersebut aku semakin “tega” untuk mengatakan TIDAK bukan karena aku tak punya hati tapi karena aku lebih senang memberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan dan aku mempunyai rasa “lebih ikhlas” dalam meberikannya.
Bahkan tidak sedikit, orang-orang di Jakarta mengemis dengan dalih macam-macam. Ada yang memberikan jasa menyebrangkan mobil yang memutar balik. Ada juga yang pura-pura bersihin kolong kursi di kereta. Bahkan ada yang minta terang-terangan kayak orang ngerampok di dalam bus kota.
Bagaimana perasaan Anda disaat ada orang yang meminta dengan cara seperti itu. Sedangkan Anda sendiri bekerja dengan waktu yang tidak sedikit dan kadang-kadang dengan tenaga ekstra??
Tapi bagaimana pun : Tangan diatas (memberi) lebih baik dari pada tangan dibawah (meminta).
Begitulah kata pepatah. Tapi jika kita bisa berkata TIDAK untuk hal yang lebih baik, kenapa tidak??
Tapi jika anda punya harta yang benar-benar berlebih, tampunglah mereka, didik mereka, ajari mereka untuk berkarya. Memberikan mereka bekal ilmu dan keahlian adalah lebih baik daripada sekedar memberi uang gopek-an. Sekali lagi, jika anda merasa mampu maka lakukanlah.
DIarsipkan di bawah: catatan kecil












