Bohong identik dengan sesuatu yang jelek, tidak baik dan tidak bagus, karena mengatakan sesuatu tidak sesuai dengan kebenarannya. Bahkan ada hadits yang mengatakan salah satu ciri orang munafik adalah jika ia berkata maka ia berbohong. Bukannya aku mengatakan disini bahwa aku adalah orang yang tidak perrnah berbohong, cuman aku berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari kebohongan itu sendiri.
Beberapa waktu lalu aku mendengar temanku berbicara melalui handphone-nya. Banyak sekali yang dia katakan. Bukan maksudku menguping , tapi dia berbicara tepat di sampingku dengan suara yang agak keras. Dia mengatakan “masih dalam perjalanan, sudah mau sampai.”. Padahal nyata-nyata dia belum beranjak sedikitpun dari tempatmya sekarang. Aku tahu karena aku disebelahnya.
Dia terbiasa untuk berbohong dengan dalih “Berbohong untuk kebaikan khan gak papa” katanya. Namum sempat terlintas bagaimana seandainya dia dibohongi istri atau anak atau orang lain yang sekiranya dia punya masalah yang mendesak dan dibohongi, akan marahkah dia? Mungkin dia akan tahu setelah merasakan itu.
Kembali ke pakem “berbohong untuk kebaikan”. Di jaman seperti ini, dimana orang sedikit banyak saling meng-‘kanibal’-i sesamanya adalah hal yang wajar kalau seseorang berpikir berbohong untuk kebaikan adalah sah-sah saja. Namun tetap saja esensi dasar berbohong adalah tidak baik, meskipun dalihnya untuk kebaikan sekalipun.
Menjadi manusia yang sempurna tanpa kebohongan adalah hal yang mustahil karena manusia paling sempurna di muka bumi adalah Baginda Rasulullah SAW. Tapi setidaknya kalau kita berpikir jika kita jujur terhadap orang lain maka orang lain juga akan jujur kepada kita. Paling tidak untuk orang-orang terdekat kita.
Mungkin saking banyaknya orang yang suka berbohong, dalam arti setiap orang menyangsikan kebenaran atau kejujuran apa yang diucapkan orang lain, sampai-sampai diciptakan mesin pendeteksi kebohongan yang katanya bisa mendeteksi berdasarkan intonasi, fluktuasi dan ketenangan bicara dari seseorang. Tapi sekali lagi, yang tahu kita berbohong atau tidak adalah Allah dan hati kita, bukan intel, reserse ataupun polisi.
Pernah juga waktu pagi-pagi sarapan di kantin kantor ada teman yang menghibur teman yang lain tapi pake cerita jorok dan kalimat jorok juga. Setali tiga uang dengan pakem ”berbohong untuk kebaikan” dia mengatakan.”Eh.. elo jangan salah ye, gue dapet amal bisa menghibur elo-elo pade, meskipun cerita ama omongan gue jorok”.
Karena aku nggak sependapat dengan dia, dia langsung kutembak dengan pertanyaan, ”Menurut elo gimana dengan Robin Hood yang mencuri untuk dikasihkan ke kaum miskin”.
Dia menjawab, ”Ya, baguslah.., berarti dia khan beramal buat kaum miskin.”
Aku sanggah lagi dengan pertanyaan, ”Menurut elo gimana dengan orang naik haji dengan uang hasil korupsi??.”
Seketika dia diam nggak bisa jawab apa-apa. Bukannya sok bijak, cuman karena aku nggak sependapat dengan dia maka aku lanjutin lagi dengan ngomong gini, “Yang namanya mencuri tuh tetep nggak baik, yang namanya korupsi tetep aja nggak bagus. Toh Robin Hood sebenernya bisa kok ngajarin kaum miskin bercocok tanam biar bisa hidup mandiri. Orang juga bisa naik haji tanpa harus korupsi, nyicil aja dari duit gaji, pasti suatu saat bisa.”
Kulanjutin lagi, “Yang namanya mau membasuh najis tuh ya pake air bersih dan suci donk, jangan membasuh najis dengan air kencing. Jadi, sesuatu yang dimulai dengan cara yang salah pasti hasilnya juga akan salah.”
Dan diapun diam nggak bisa menyanggah apa-apa hehehehe…
Kemaren juga sempet baca artikel di okezone kalo “pakar” telematika Roy Suryo mengatakan kalau blogger (tukang ngeblog – red) adalah tukang tipu. Seketika aku emosi, soalnya aku juga nge-blog. Padahal banyak yang nge-blog itu sharing ilmu, bukankah berbagi ilmu pengetahuan adalah amal jariyah, tapi tentunya ilmu yang baik dong. Di blog sebenernya tempat menyampaikan uneg-uneg yang bisa kita luapkan dalam bentuk tulisan dan juga berbagi pengalaman.
Seorang Roy Suryo yang dikenal publik sebagai “pakar”, website pribadi saja tidak punya. Nggak usah website-lah, blog atau media interaktif di internet, punyakah dia???. Apakah itu bukan sesuatu yang aneh?.
Seorang Onno W.Purbo yang kualitasnya sudah diakui sebagai pakar IT malah tidak pernah berkoar-koar. Sangat jauh dibandingkan dengan Roy Suryo yang oleh para blogger dikatakan seorang omdo (omong doank – red) dan dikenal bukan sebagai pakar telematika tapi sebagai pakar pornografi. Bagaimana tidak? pada saat semua orang mencari ilmu atau literature di internet, dia bisa mengatakan jumlah situs porno lokal di Indonesia mencapai satu juta lebih. Sebagai seorang akademisi dan dosen, apakah perkerjaan Roy Suryo cuman bukain situs porno saja, jika sehari saja buka satu situs, adakah dia butuh tiga tahun hihihi… :p?? Pada saat artis-artis muncul dengan gambar-gambar seksinya malah Roy Suryo yang jadi juru bicaranya. Sudah tidak layak lagi disebut pakar telematika tapi lebih laik disebut pornographer. Maaf Mas Roy, karena aku sebagai blogger dikatakan tukang tipu, maka aku tidak ingin menipu diriku sendiri, makanya aku tuliskan ini semua. Kalau aku tidak menulis ini maka aku tukang tipu donk…
Gimana Mas Roy, blogger atau anda yang tukang tipu??
Waktu aku masih bekerja sebagai programmer di Intan Pariwara – Klaten, aku pernah dikasih pertanyaan yang aku analogikan kayak gini :
Roy Suryo : Seluruh blogger adalah tukang tipu.
Blogger : Aku adalah blogger. Aku adalah tukang tipu.
Menurut anda Blogger tersebut Jujur atau Pembohong?
Analisisnya kira-kira gini : jika dilihat dari segi profesi blogger mungkin termasuk kategori tukang tipu alias pembohong (tentunya menurut Mas Roy dong..), tapi kalo dilihat dari sisi blogger dengan dia mengatakan ”Aku adalah blogger. Aku adalah tukang tipu” berarti dia jujur dong. (mungkin dia mengatakan kayak gitu karena geram ama Mas Roy hehehehe…).
Satu pertanyaan : kira-kira logika pemrograman komputer bisa nggak ya menyelesaiakan permasalahan konklusi diatas??
Tapi sekali lagi, saya, anda, mereka.. adalah bukan manusia sempurna yang tidak lepas dari berbohong itu sendiri. Tapi bukankah lebih bijak seandainya kita tidak mem-’vonis’ seseorang atau orang banyak sebagai tukang tipu ataupun pembohong. Dan mungkin lebih baik lagi jika kita bisa untuk tidak berbohong meskipun katanya demi kebaikan. Toh bagaimanapun jujur itu tetap lebih baik dibanding berbohong, meskpiun pahit.
# Depok, 6 April 2008 at 05.51 pm #
DIarsipkan di bawah: catatan kecil













Setuju dhot, kebohongan walau itu untuk kebaikan tetep aja bohong. Yang anehnya lagi, tau kan makhluk yg namanya perempuan, mereka itu kadang lebih senang kalo di bohongi, hehhehhe.
.
). Jujur itu melegakan, bohong itu membebani hati, berat. Kecuali untuk orang2 yang biasa bohong, tanpa beban kali yah
’
Yang paling nggak enak tuh, kalo kita di bohongi trus kitanya tau, apalagi masalah yg cukup penting, huh… pengen rasanya ngasah pedang, trus mbacok
Selama ini sih aku selalu berusaha untuk jadi orang jujur (kadang gagal sih
Lanjut posting ndessss. Terpancing juga dirimu buat nulis lagi gara2 omongan om roy. kwakakkakakakakak
[...] majalah atau surat kabar dapat mengungkapkannya melalui blog. Meski pakar tadi mengatakan “Blogger itu hacker pembohong“, namun saya melihat esensi kejujuran pada blog. Masalah mau percaya atau tidak, menganggap [...]