Dapet artikel dari temen nehh… iseng2 buat nambah referensi cerita meng-inspirasi..
======
Baru saja saya selesai membaca novel The Alchemist, salah satu novel spiritual yang sangat saya sukai disamping Celestine Prophecy. The Alchemist bercerita tentang perjalanan seorang anak lelaki yang berusaha mengejar harta karun. Sepanjang perjalanan dia menemukan berbagai macam kebetulan-kebetulan yang mengarah pada pencapaian mimpinya tersebut.
Mulai dari bacaan seorang gypsi mengenai harta karun sampai dengan perampokan yang dialaminya di Mesir di dekat piramida-piramida yang bercahaya. Dalam perjalanan yang mendewasakan dirinya itu, si anak lelaki memperoleh pencerahan melalui kalimat yang sama dan berulang-ulang disampaikan oleh beberapa orang yang berbeda. Kalimat tersebut kira-kira berbunyi seperti ini :
Apabila kamu bersungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka segenap alam semesta akan membantumu untuk mewujudkannya.
When you really want something to happen, the whole universe conspires so that your wish comes true.
Karenanya, kata mereka, si anak lelaki harus mampu membaca tanda-tanda yang diperlihatkan oleh alam sebagai petunjuknya.
Saya jadi ingat sebuah film drama komedi romantis, dibintangi oleh John Cuszack yang memerankan Jonathan dan Kate Beckinsale yang memerankan Sara. Judulnya Serendipity, nama sebuah kafe di Manhattan tempat Jonathan dan Sara makan malam setelah pertemuan pertama mereka di toko sarung tangan. Serendipity ini sepertinya sudah pernah diadopsi oleh Trans TV dalam film Andai Ia Tahu. Dibintangi oleh Marcel dan Rachel Maryam.
Serendipity, menurut kamus berarti sebuah kesanggupan untuk menemukan sesuatu keterangan dengan tak disengaja waktu mencari sesuatu yang lain. Namun Sara sendiri mendefinisikan serendipity sebagai sebuah kebetulan yang menguntungkan, fortunate accident menurut istilahnya. Sebenarnya film ini adalah jenis film yang ringan. Namun yang membuat saya terpikat adalah percakapan antara Jonathan dan Sara di awal film itu. Dalam perbincangan antara keduanya di kafe Serendipity, Sara berkata kepada Jonathan “I don’t believe in accidents. I think fate’s behind everything.”
Menurutnya, dia tidak mempercayai sebuah kebetulan. Namun ada sebuah takdir yang melatarbelakangi segala kejadian di muka bumi ini. Kemudian Sara melanjutkan, “I think we make our own decisions. I just think that fate sends us little signs and it’s how we read the signs that determines whether we’re happy or not.” Dia berpendapat bahwa takdir akan selalu memberikan tanda-tandanya kepada manusia. Dan tergantung kepada manusia, apakah mampu atau tidak untuk membaca dan mengikuti tanda-tanda tersebut.
Novel Celestine Prophecy-pun juga mengatakan hal yang sama, bahwa tidak ada kebetulan-kebetulan di dunia ini. Karena semuanya sudah diatur oleh Pencipta alam semesta.
Kira-kira dua tahun yang lalu, pada saat saya sedang mengikuti pelatihan dan pembekalan untuk pegawai baru di perusahaan tempat saya bekerja saat ini, salah seorang instruktur saya bercerita tentang pengalaman hidupnya.
Pengalaman yang terkait erat dengan takdir, kebetulan dan imajinasi. Sebelum berprofesi sebagai konsultan sdm, si instruktur pernah mempunyai keinginan untuk suatu saat melanjutkan sekolah pasca sarjananya ke Inggris.
Sedemikian kuat keinginannya, sampai-sampai si instruktur mampu berimajinasi dan membayangkan dirinya sedang berjalan-jalan di salah satu taman kota di Inggris bersama-sama anak dan isterinya. Bahkan keinginan tersebut juga ikut terbawa ke dalam mimpi si instruktur.
Beberapa waktu kemudian, setelah mencoba melamar ke beberapa lembaga penyedia beasiswa di Jakarta, ternyata si instruktur memperoleh kesempatan untuk mengambil pasca sarjana di Inggris melalui beasiswa dari Chevening Award.
Bahkan beberapa bulan kemudian dia mampu memboyong keluarga ke Inggris dan mewujudkan mimpinya, berjalan-jalan di taman kota bersama anak dan isterinya.
Di akhir cerita si instruktur berpesan apabila memiliki suatu keinginan maka kita harus bersungguh-sungguh. Bahkan imajinasikan keinginan itu ke dalam otak kita. Karena berbekal kesungguhan itu, dengan izin Tuhan, maka keinginan itu akan mewujud menjadi kenyataan.
Bulan Nopember 2005 kemarin, perusahaan tempat saya bekerja mengadakan pelatihan out bond untuk seluruh pegawainya. Diadakan oleh masing-masing cabang, pelatihan tersebut menorehkan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Karena ada statement dari instruktur yang terkait erat dengan apa yang coba disampaikan oleh The Alchemist..
Sesi terakhir dalam pelatihan tersebut berupa materi in classroom yang diisi oleh salah satu instruktur seniornya.
Si instruktur bercerita di depan forum bahwa apa yang kita raih dan miliki saat ini sebenarnya sudah kita persiapkan dari semenjak dulu kala. Dengan ataupun tanpa kita sadari.
Sehingga dengan sendirinya kita akan membuka jalan atau meniti jalan menuju apa yang kita miliki sekarang. Semua yang ada di kita bukanlah sebuah keberuntungan ataupun kebetulan. Misalkan, saat ini saya bekerja di perbankan.
Maka mungkin dulu saya pernah punya atau terbersit keinginan untuk bekerja di bidang perbankan. Karenanya dengan atau tanpa saya sadari, dengan sendirinya selama ini apa yang saya lakukan selalu mengarah ke perbankan.
Jadi bukanlah kebetulan ataupun juga sebuah keberuntungan apabila saya kerja di perbankan, tetapi ternyata sudah sejak lama saya merintis atau meniti jalan itu.
The Alchemist, Serendipity, Celestine Prophecy, instruktur konsultan sdm dan instruktur out bound berbicara tentang satu hal yang sama, bahwa garis besar perjalanan hidup setiap anak manusia sebenarnya telah digariskan oleh Allah, Tuhan semesta alam. Grand design hidup kita sebenarnya sudah disusun. Jalan yang harus kita lalui-pun juga telah ditentukan jauh sebelum kita sendiri menjalaninya. Bahkan apabila kita mampu membaca tanda-tanda yang disampaikan oleh alam, maka kita akan mampu meraih takdir kita.
Bukan berarti lalu kita harus berdiam diri, dan kemudian takdirlah yang akan menghampiri kita. Karena seperti yang Sara katakan dalam Serendipity : “I think we make our own decisions. I just think that fate sends us little signs and it’s how we read the signs that determines whether we’re happy or not.” Takdir merupakan sebuah proses achievement, bukan semerta-merta diberikan oleh Allah kepada manusia begitu saja sebagai sebuah keberuntungan.
Proses pencapaian takdir membutuhkan usaha, kerja keras dan kemampuan untuk membaca tanda-tanda alam. Karena keberuntungan sejatinya adalah istilah untuk sebuah keinginan yang mengkristal di atas puncak piramida doa manusia sehingga segenap alam semesta atas ijin Allah akan bersatu padu dan berusaha membantu membuka jalan kita untuk mewujudkan keinginan itu.
Sayangnya, sering kali manusia mencoba menolak atau menghindari takdirnya. Karena mereka merasa apa yang ditentukan oleh Penguasa semesta alam bukanlah yang terbaik buat mereka. Bahkan meskipun tanda-tanda alam telah disampaikan, kita dengan penuh kesombongan mengabaikannya. Seolah-olah memang hanya diri kita sendiri yang mempunyai kuasa menentukan arah perjalanan hidup.
Kalaupun bukan dengan kesombongan, pengabaian itu disebabkan oleh ketidakmampuan manusia dalam membaca tanda alam. Ataukah sebuah ketidakmauan?
======
Aku sendiri benar-benar mengalami seperti yang ada dalam buku The Alchemist. Semua yang kualami hingga saat ini adalah sebuah perjalanan hidup yang semuanya bukan suatu kebetulan belaka. Hari itu sekitar akhir bulan September 2004, sahabatku Agus Dhepe datang ke rumahku pada sore hari. Sore itu juga aku sudah pulang kerja dari tempat kerjaku waktu itu yaitu sebagai Programmer di Intan Pariwara Group.
Maksud kedatangan Agus Dhepe adalah mengabarkan kalau ada lowongan CPNS di BATAN. Agus memberikan informasi tersebut karena di BATAN ada syarat umur, dan umurku masih memenuhi untuk lowongan tersebut. Tapi ada sesuatu yang mengganjalku yaitu aku mesti langsung datang ke Jakarta untuk melamar langsung. Waktu iku aku tidak bisa karena tidak boleh ijin oleh atasanku.
Akhirnya Agus menyuruh melamar ke Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) , padahal aku baru denger BAPETEN baru sore itu. Akupun dikasih tahu alamat kantornya dan segera memasukkan lamaran tanpa tahu formasi dan kapan waktu pembukaan lowongan serta waktu ujian. Maksudku waktu itu adalah buat menyenangkan hati teman yang telah jauh-jauh ngasih informasi, karena waktu itu aku punya rencana mau daftar CPNS di Pemda Jepara.
Dua hari setelah kedatangan sobatku itu, aku membuat lamaran pekerjaan yang ’cuma’ berisi surat lamaran, fotokopi ijazah dan transkrip nilai, fotokopi KTP ditambah perangko balasan. Surat lamaran kubungkus amplop coklat besar dan kumasukkan ke kotak pos karena aku tidak punya waktu untuk memberikan langsung pada petugas pos.
Setelah itu jarang terlintas diotakku mengenai BAPETEN, karena aku fokus pada lowongan CPNS di Jepara. Bahkan aku membolos kerja untuk memasukkan lamaran disana. Tepatnya tanggal 1 November 2004. Proses memasukkan lamaran selesai dalam waktu satu hari karena syarat dan kelengkapan sudah kulengkapi semua.
Akhirnya setelah memasukkan lamaran aku belajar mengenai materi yang akan diujikan. Tes tertulis dilaksanakan hari Rabu tanggal 24 Nopember 2004 di balai kota Jepara. Tanggal 23 pagi (selasa) aku sudah berencana untuk berangkat ke Jepara dan pada hari minggu aku sudah packing pakaian dan kelengkapan tes. Hari senin aku masih masuk kerja tapi hanya setengah hari karena waktu itu habis lebaran jadi di kantor hanya acara syawalan dan setengah hari kerja.
Hari yang tepat untuk beristirahat karena aku berpikir Selasa harus menempuh perjalanan empat jam ke Jepara menggunakan sepada motor.
Tapi ternyata takdir berbicara lain. Selama di perjalanan aku berpikir tentang Tes Ujian CPNS di Jepara. Tapi apa yang aku dapati setelah sampai di depan rumah dan membuka pintu rumah. Aku mendapati Surat Penggilan Tes Ujian CPNS BAPETEN di bawah pintu masuk rumah. Surat tersebut ditaruh oleh Pak Pos di bawah pintu karena waktu itu di rumahku kosong. Aku tinggal berdua sama kakakku di rumah itu dan waktu itu kakakku sedang bekerja juga. Semua terjadi begitu saja. Rencana yang tadinya sudah kurancang dengan baik untuk ke Jepara jadi berantakan karena aku dirundung kebingungan yang amat sangat. Jika memilih BAPETEN aku harus berangkat ke Jakarta saat itu juga. Tapi karena aku yakin dengan pertanda seperti di buku Alchemist itu akhirnya aku berangkat ke Jakarta.
Bahkan pada saat test CPNS semakin optimis lagi karena cuman sekitar 22 orang dan katanya yang diterima sekitar 11 orang. Perbandingan diterimanya 1:2, cukup mudah untuk ukuran penerimaan CPNS jika dibandingkan dengan di Daerah.
Setelah test tertulis, pengumuman berikutnya akan diumumkan dua minggu kemudian untuk mengikuti tes wawancara. Dan lagi-lagi terjadi keajaiban. Sepulang kerja aku mampir sebentar ke warnet sekitar jam 16.15 untuk melihat pengumuman peeserta test tertulis yang akan lulus untuk ikut wawancara. Tanggal itu adalah tanggal yang dijanjikan oleh panitia untuk mengumumkan tapi ternyata aku mendapati belum ada di website BAPETEN.
Lalu aku bergegas untuk pulang dan akhirnya belum lima menit aku sampe di rumah. Agus – salah satu sahabat terbaikku – datang sambil membawa hasil pengumuman yang dia dapati dari internet yang ditampilkan sesaat setelah aku keluar dari warnet.
Subhanallah.. Maha Besar Allah dengan segala kemampuan-Nya..
Kamipun langsung berangkat ke Jakarta karena satu hari kemudian test wawancara mesti dilaksanakan. Tidak tahu kenapa, tapi Allah sepertinya sangat memudahkan proses perjalanan kami. Jumat sore berangkat, Sabtu siang tes wawancara, kemudian sabtu sore pulang lagi ke Jogja. Melelahkan tapi puas..
Pengumuman peserta tes wawancara yang diterima untuk menjadi PNS ditentukan dua minggu kemudian. Dan Subhanallah… Dengan prosentase yang cukup besar, kemungkinan diterima memang besar..
Tepat di hari pengumuman, waktu itu hari Senin aku diberitahu kalo pengumuman akan ditampilkan di internet pukul 5 sore. Jam lima udah stand by di warnet sehabis pulang kerja sekalian mampir, tapi lagi-lagi di internet belum ada..
Akhirnya sekitar jam tujuh malam dengan hujan yang sangat deras, aku bersepeda motor ke Babarsari ke warnet terdekat.
Kubuka website www.bapeten.go.id, disitu kulihat file PDF SK Kepala BAPETEN tentang Peserta yang diterima CPNS BAPETEN tahun 2004.
Rasa haru dan sujud syukur disertai tetesan air mata di kubikal warnet. Tangis haru karena setidaknya aku bisa membahagiakan orang tuaku karena beliau menginginkan aku jadi seorang PNS. Dan satu lagi hal yang bikin aku ingin berteriak karena bahagia. Agus – teman sebangku waktu SMA di IPA 3 – juga diterima.
Bergegas langsung menemui operator warnet, minta kertas buat mencetak SK tersebut.
Sekitar jam 20.15 aku pulang dalam suasana tangis diantara hujan deras. Jam 20.30-an aku mengetuk pintu rumah sahabatku Agus, ” Gus, ketompo…!!!!!”(ketrima-red), dan tangispun tak terbendung di keluarga Agus, sujud syukurpun langsung dilakukan oleh keluarga Agus…
Allah memang benar-benar Maha Baik…
Pada saat orang berlomba-lomba mencari kerja dengan menghalalkan segala cara, Allah yang maha baik memberikan kami pekerjaan tanpa harus melakukan suap.
“Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya kepada-Nya,apabila ia berprasangka baik maka kebaikan untuknya,bila ia berprasangka buruk maka keburukan baginya” (HR.Ahmad)
DIarsipkan di bawah: catatan kecil












